Dari Al Hasan RA, Rasulullah SAW bersabda, ” Maukah kamu aku beritahu tentang seburuk-buruknya pencuri?” para Sahabat bertanya, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Orang yang mencuri dari shalatnya.” sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang mencuri dari shalatnya?” Beliau bersabda, “Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”
Dalam kisah lain, Rasulullah pernah menyuruh orang yang telah melakukan shalat untuk mengulangi shalatnya hingga tiga kali. Penyebabnya, ketika shalat orang tersebut belum menyempurnakan wudlunya, takbirnya, berdirinya, bacaannya, rukuknya, sujudnya dan thuma’ninahnya. Beliau menjelaskan cara yang benar dalam melakukannya sebanyak empat kali hingga selesai. Kemudian Rasul bersabda, “Shalatnya seseorang diantara kamu tidak akan sempurna sebelum mengerjakan yang demikian itu.”
Baca selengkapnya!
Melakukan shalat saja tidaklah cukup, tetapi harus mencapai taraf kesempurnaan. Obsesi kesempurnaan bukanlah pemaksaan, tetapi agar jiwa shalat terserap dan tertanam untuk membentuk karakter terpuji dan menghasilkan kemaslahatan, keberkahan serta perbaikan diri.
Kesempurnaan shalat diawali dengan menyempurnakan wudlu dan menyempurnakan semua rangkaian gerakan dalam shalat. Gerakannya begitu ringan dan mudah. Akan tetapi, bila gerakannya tidak disesuaikan dengan contoh dan petunjuk Rasulullah SAW, gerakan tersebut hanya akan menjadi gerakan tak beraturan tanpa makna.
Setiap gerakan memiliki jiwa, peran dan makna tersendiri yang akan memantulkan kekuatan positif dan konstruktif. Ia merupakan sebuah irama kesatuan yang saling menopang dan menyempurnakan gerakan berikutnya.
Wudlu bermakna membersihkan karakter buruk dan dosa. Menghadap kiblat, menghadapkan jiwa sepenuh hati dengan khusyuk dan merendahkan diri. Takbiratul Ikhram, membesarkan Allah SWT. Membaca surah dengan menghayati dan berkeinginan untuk mengamalkannya. Rukuk dan sujud, bentuk perwujudan ketundukan, kepatuhan dan kepasrahan diri total kepada Dzat Yang Maha Agung.
Bila gerakan raga dan jiwa shalatnya sudah terbiasa, terpola dan seirama dengan yang dicontohkan Rasulullah. Manusia akan terbiasa pula mengikuti gerakan dan pola hidup yang dicontohkan Rasulullah. Kepatuhan di luar shalat berbanding lurus dengan kepatuhan di dalam shalat. Wallaahua’lam
sumber: Hidayah

