Seperti biasanya, kajian itu hanya diikuti belasan ikhwan, bersama ustadz belajar tahsin di masjid yang tidak begitu besar di belakang kampus Universitas Islam Negeri (UIN), Malang. Kira-kira akhir Desember 2010. Sebelum kajian berakhir, datang seorang laki-laki yang akan mengubah kisah itu menjadi kisah yang luar biasa.Sesaat setelah tahsin berakhir, orang itupun menghampiri ustadz dan kemudian bertanya. Pertanyaan yang biasa dilontarkan orang awam, orang yang ingin belajar dan mengenal lebih dalam tentang Islam. Dia bertanya tentang kalimat “laa ilaha illallah - muhammadar rasulullah”. Utadz lalu menjelaskan arti dan maknanya.
Setelah dirasa cukup faham, kemudian orang itu bercerita tentang dirinya. Dia sebenarnya adalah Biarawan Budha. Biarawan yang telah lama mempelajari Islam. Dia habiskan banyak waktu untuk berkeliling, menjelajah daerah-daerah, keluar masuk masjid-masjid untuk mendalami Islam. Dia juga bercerita tentang amalan agamanya (Budha) yang sedang dijalaninya, diantaranya (maaf) memotong kemaluannya dan menusukkan besi ke dadanya.
Dia melanjutkan bercerita, pernah dia masuk ke suatu masjid, diamatinya orang-orang yang beribadah di dalamnya. Dia melihat ada orang yang berdzikir dengan menggunakan alat hitung, (umat muslim biasa menyebutnya sebagai “tasbih”). Di sisi lain masjid, dia melihat orang berdzikir dengan menggerak-gerakkan tubuhnya. Dan dia mendapati di masjid itupun ada sebuah kentongan dan bedug. Dia beranggapan, bukan ibadah seperti itu yang ia cari, bukan masjid itu yang ia inginkan. Karena alat hitung itu, cara berdzikir dan alat panggil untuk beribadah masih menyerupai agamanya. Diapun pergi dan melanjutkan penjelajahannya.
Sampai akhirnya ia menemukan masjid sederhana di belakang UIN itu. Masjid dengan orang-orang yang tekun belajar memperdalam Islam. Tidak ada alat hitung berdzikir, geleng-geleng kepala saat berdzikir ataupun kentongan dan bedug untuk panggilan shalat. Masjid dengan orang-orang yang istiqomah mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Biarawan berfikir, inilah agama, orang-orang dan masjid yang ia cari. Akhirnya, Subhanallah Alhamdulillah, atas Hidayah dan Rahmat Allah SWT, Biarawan Budha itupun menjadi Mualaf, memeluk Islam. Innallahu a’lam bishowwab.
(diceritakan ulang oleh Abi Abdillah InsyaAllah dan ditulis oleh AA Afandi)

